Setelah Terbit Lebih dari 20 Tahun, Manga Makibao Akhirnya Tamat
Salah satu anime yang cukup legendaris kala itu adalah serial Makibao
yang tayang rutin setiap minggu di salah satu televisi swasta.
Baru-baru ini manga yang ditulis oleh Tsunomaru dan diserialkan di Weekly Shōnen Jump, mengumumkan tamat pada majalah mingguan Weekly Playboy milik Shueisha pada tanggal 17 Februari kemarin.
Manga yang mengangkat petualangan seekor kuda pacuan ini pertama kali terbit dengan judul Midori no Makibao, dan terus berlanjut sampai Taiyou no Makibaou W yang tamat di edisi ke 20.
Manga Midori no Makibao sendiri menceritakan kisah kuda putih mungil yang sering mendapat bully
karena ukuran tubuhnya yang tak proporsional sebagai kuda pacu. Bahkan
tampilan fisiknya lebih mirip keledai dengan lubang hidung yang besar.
Konflik bermula ketika ibu dari Midori Makibao dibawa pergi sebagai
ganti hutang-hutang yang telah menumpuk. Tak mau tinggal diam, Makibao
pun ikut berbagai turnamen pacuan kuda demi mengumpulkan uang yang
hasilnya dipakai menebus ibunya yang di bawa.
Pada awal karir, Makibao memiliki kesulitan membuat debut sebagai
kuda pacuan. Terlebih ia harus bersaing dengan kuda unggulan yang
memiliki lari super cepat, Superhorse Cascade. Tapi dengan semangat dan
tekad demi bertemu ibunya kembali, semua rintangan itu pada akhirnya
bisa Makibao lalui dengan susah payah.
Kabar tamatnya Makibao juga turut mendapat perhatian dari
manga-manga hebat saat ini seperti Eiichiro Oda hingga Masashi
Kishimoto. Mereka menyampaikan dukungan kepada Tsunemaro dalam edisi
terbaru majalah Weekly Playboy.
Terdapat 13 mangaka yang turut berpartisipasi dalam koleksi ilustrasi dalam majalah tersebut yaitu Yudetamago (Kinnikuman), Akira Miyashita (Sakigake!! Otoko-juku), Masanori Morita (Rokudenashi Blues Rookies), Kyosuke Usuta (Pyu to Fuku! Jaguar), Eiichiro Oda (One Piece), Masashi Kishimoto (Naruto), Yuusuke Murata (One Punch Man), Kousuke Masuda (Gag Manga Biyori), Koujji Oishi (Inumarudashi-), Shuuichi Asou (Saiki Kusuo no Psi Nan), Gatarou Man (Dragon Ball Gaiden), dan Jigoku no Misawa (Kakko-Kawaii Sengen!).
Dr.
Slump (Bahasa Jepang: Dr. スランプ Dr. Suranpu) adalah salah satu dari
manga paling populer karya Akira Toriyama. Seri pertamanya terbit pada
tahun 1980 oleh Shueisha di majalah bulanan Shonen Jump, dan seri-seri
selanjutnya melejitkan karier Akira Toriyama.
Manga ini berakhir pada tahun 1984 dan kemudian dibukukan menjadi 18
seri buku. Dr. Slump pun telah diadaptasi ke dalam dua anime terpisah.
Anime yang pertama ialah Dr. Slump & Arale-chan (Dr.スランプ アラレちゃん)
disiarkan pada tahun 1981 hingga 1986 dengan total sebanyak 243 episode.
Anime yang kedua disiarkan pada tahun 1997 hingga 1999 dan hanya 74
episode. Dr. Slump juga telah diadaptasi ke anime layar lebar sebanyak
sepuluh buah.
Di Indonesia, anime Dr. Slump disiarkan oleh stasiun televisi SCTV
dengan judul Arale. Manga Dr. Slump sampai ke Indonesia melalui Rajawali
Grafiti pada tahun 1996.
SINOPSIS
Dr. Slump mengambil setting di Desa Penguin, sebuah tempat di mana
manusia hidup berdampingan dengan segala macam hewan dan objek-objek
lain yang dapat berbicara. Di desa ini hidup seorang penemu bernama
Senbei Norimaki yang akrab dipanggil "Dr. Slump". Pada jilid pertama,
Senbei menciptakan sebuah robot perempuan yang ia beri nama Arale
Norimaki. Arale memiliki kekuatan super serta sifat yang naif, dan dalam
jilid-jilid berikutnya ia memiliki petualangan-petualangan seperti
membawa seekor beruang yang besar pulang ke rumah karena mengira bahwa
beruang tersebut merupakan seekor hewan peliharaan. Secara garis besar
manga ini berfokus pada kesalahpahaman Arale terhadap dunia manusia dan
hasil-hasil ciptaan Senbei, persaingan, dan petualangan-petualangan
romantis
Setelah lihat banyak berita mengenai lakunya “Kimi no Na wa,” pastinya kalian makin penasaran dengan film terbaru dari Makoto Shinkai
ini. Bahkan mungkin ada di antara kalian yang meminta beberapa bioskop
di Indonesia untuk menayangkan film ini agar bisa dinikmati dalam layar
besar.
Mungkin di antara kalian yang sadar bahwa saya menghilang selama 2
pekan kemarin. Selama 2 pekan kemarin, saya pergi ke Jepang untuk
meliput Tokyo Game Show 2016, menonton konser Nana Mizuki, dan juga
menikmati berbagai keindahan dan makanan Jepang. Tentunya saya
menggunakan kesempatan ini untuk menonton Kimi no Na wa yang laku keras di Jepang.
Kisah Khas Makoto Shinkai
Dari sinopsis saja, kalian bisa tahu bahwa Kimi no Na wa menghadirkan cerita khas Makoto Shinkai tentang sepasang remaja laki-laki dan perempuan yang sulit untuk bertemu. Kimi no Na wa
mengisahkan Taki yang tinggal di Tokyo dan Mitsuha yang tinggal di
suatu desa. Ketika tidur, kadang tubuh mereka berdua tertukar. Hal ini
membuat kehidupan mereka pun menjadi kacau karena kelakuan yang berbeda
ketika bertukar tubuh. Karena itu, mereka berdua pun berjanji untuk
mencatat seluruh kegiatan demi menjaga kehidupan mereka masing-masing.
Sebisa mungkin saya tidak ingin memberi spoiler agar kalian
bisa menonton film ini dengan puas. Dari segi durasi, film ini cukup
panjang yaitu berdurasi 1 jam 46 menit. Durasinya lebih panjang dari Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho dan lebih pendek dari Hoshi wo Ou Kodomo. Meski begitu, Makoto Shinkai sepertinya sudah belajar dari film-film yang dia kerjakan sebelumnya. Meski durasinya panjang, pacing kali ini jauh lebih baik sehingga membuat penonton tidak bosan.
Meski kali ini durasinya cukup panjang, Shinkai menggunakan seluruh
waktunya dengan efisien untuk membuat kalian menjadi lebih dekat dengan
Taki dan Mitsuha. Ceritanya pun disampaikan dari masing-masing sisi
karakter, jadi kalian tahu bagaimana kehidupan di sekitar masing-masing
karakter utama dan bagaimana pertukaran tubuh mulai mempengaruhi
kehidupan sehari-hari mereka.
Berkat ini, Kimi no Na wa benar-benar menghadirkan cerita
yang lebih baik karena Shinkai menghabiskan waktu lebih banyak untuk
kedua karakter utama sehingga penonton menjadi lebih peduli dengan
keduanya dan penasaran bagaimana nasib mereka berdua di akhir film ini.
Penanganan karakter dan pacing cerita yang lebih baik ini membuat Kimi no Na wa menjadi lebih baik dibandingkan film-film Shinkai sebelumnya. Karya-karya Shinkai yang paling dikenal adalah Hoshi no Koe, Byousoku 5 cm, dan Kotonoha no Niwa. Ketiganya lebih sukses karena berdurasi lebih pendek yang sudah biasa ditangani oleh Shinkai. Sedangkan untuk Kumo no Mukou, Yakusoku no Basho dan Hoshi wo Ou Kodomo
kurang begitu terkenal. Menurut saya pribadi, masalah yang ada dalam
kedua film itu adalah penggunaan waktu yang kurang efisien untuk membuat
kita peduli dengan karakter-karakternya.
Kualitas Animasi yang Tidak Perlu Diragukan
Selain cerita yang bikin kalian galau, anime yang dikerjakan oleh Makoto Shinkai selalu berupa eye-candy. Tentu Kimi no Na wa menghadirkan animasi yang sangat indah. Meski tema kali ini bukan hujan seperti di Kotonoha no Niwa, Kimi no Na wa
masih menghadirkan adegan hujan yang sangat menakjubkan. Gerakan
karakter pun sangat mulus, terutama pada saat adegan yang berhubungan
dengan Mitsuha dan desanya.
Meski sudah menghadirkan animasi yang indah, detil gambar pun tidak
dilupakan. Masing-masing adegan terlihat dengan jelas dan kalian bisa
mengenali seluruh obyek dengan mudah. Bahkan, pada saat di bagian akhir
film-nya, teman saya yang ikut nonton mengenal daerahnya yang katanya
berada di dekat kantornya di Jepang.
Kenapa film ini bisa sangat laku di Jepang? Ternyata setelah menonton film ini saya jadi mengerti. Hype-nya
sendiri pun tidak bohong. Pada awalnya, saya dan teman-teman ingin
menonton siang hari atau malam, tetapi ternyata sudah penuh. Jadi
terpaksa harus menonton jam pertama yaitu pada pukul 09:40. Meski jamnya
masih pagi, ternyata penayangan pada jam pertama pun dipenuhi oleh
penonton.
Kekecewaan seorang anak pada ayahnya menjadi drama utama.
Namanya,
Boruto Uzumaki. Dia adalah anak dari Naruto. Setelah perdamaian
negara-negara ninja, Boruto lantas tumbuh di kota besar dengan teknologi
canggih. Namun, di luar kenyamanan itu, Naruto sebagai anggota dari
Hokage ketujuh dari Konohagakure itu menjadi sangat sibuk hingga jarang
berkumpul dengan istrinya, Hinata Hyuga, dan anak-anaknya.
Saat
merayakan ulang tahun adiknya, Himawari Uzumaki, Boruto juga kecewa
lantaran sang ayah kembali berhalangan hadir. Naruto hanya mengirim klon
bayangan untuk merayakan ulang tahun Himawari.
Cerita kekecewaan
anak Naruto itulah yang menjadi drama dari kisah Boruto: Naruto The
Movie. Tidak hanya drama penuh kecewa, film yang merupakan lanjutan dari
The Last: Naruto The Movie tersebut menghadirkan pertarungan ninja
dengan kehebatan teknik dan senjata masing-masing yang diceritakan oleh
penulis Masashi Kishimoto.
Momen kesedihan Boruto pun dibuat
bertepatan dengan kedatangan Sasuke Uchiha yang kembali ke Konoha untuk
memperingatkan Naruto. Saat memasuki bagian ini, mulailah banyak sekali
aksi pertarungan yang membuat film generasi Naruto itu kian seru.
Sasuke
mengetahui adanya ancaman tersebut karena ia menemukan dimensi lain
yang bisa menjadi awal dari datangnya serangan. Memanfaatkan kedatangan
Sasuke, Boruto pun semakin penasaran dan mengagumi Sasuke sehingga
membuatnya ingin menjadi muridnya.
Boruto ingin belajar begitu
banyak teknik ninja dari Sasuke dengan tujuan untuk mengalahkan ayahnya.
Pemikiran tersebut muncul saat ia sangat marah karena ayahnya lebih
mementingkan pekerjaannya dibanding melatih dirinya menjadi seorang
ninja.
Nuansa humor turut membumbui kisah Boruto yang sedang
belajar menjadi ninja. Seperti, saat ia belajar beberapa teknik ninja
dari Sasuke. Ia yang juga ayah dari teman Boruto, Sarada Uchiha, sering
kali meremehkan kemampuan Naruto dengan cara yang serius namun lucu.
Naruto pun akhirnya termotivasi dengan cara Sasuke yang seperti itu.
Akhirnya,
Sasuke mengajarkan teknik shurikenjutsu kepada Boruto untuk persiapan
ujian chunin. Benar saja, ketika ujian berlangsung, Boruto berhasil
unggul di putaran satu dan dua. Sarada juga membantu dengan teknik
ninjanya. Naruto lantas mengucapkan selamat kepada Boruto dengan proses
yang sangat bagus untuk mengawali ujiannya. Sayangnya, sang ayah
lagi-lagi mengucapkan selamat hanya melalui pesan di surat
elektroniknya. Hal itu membuat si anak makin kesal.
Setelah
memenangkan putaran kedua, Naruto terlihat menonton ujian tersebut
bersama istri dan anak perempuannya. Naruto juga melihat secara langsung
kemenangan anaknya saat melawan Shikadai Nara. Shikadai menyerah
setelah melihat teknik klon bayangan Boruto.
Meskipun begitu,
Naruto yang menonton ujian tersebut merasa ada yang aneh dari apa yang
dilakukan anaknya. Naruto pun meminta Hinata melakukan teknik Byakugan
tentang apa yang terjadi. Hinata menyimpulkan Boruto menggunakan
perangkat di tangannya yang menyimpan teknik ninjutsu.
Naruto
pun kecewa dan memutuskan anaknya didiskualifikasi dari ujian tersebut.
Sedangkan untuk kemenangan Shikadai, ditentukan dari ujian melawan
Boruto. Bahkan, Naruto mencopot pelindung dahi ninja di kepala Boruto
karena kekecewaannya sehingga membuat anaknya marah.
Di situlah,
Boruto akhirnya mengungkapkan kemarahan kepada ayahnya mengapa ia bisa
curang menggunakan perangkat tersebut. Ia marah karena sang ayah sibuk
dengan Hokage dan tidak sempat mengajarkan teknik ninja.
Saat
perdebatan, tersebutlah peringatan yang disampaikan Sasuke. Kemudian,
dua ninja jahat yang menyerang Sasuke, Momoshiki Otsutsuki dan Kinshiki
Ktsutsuki, muncul.
Kedatangan dua tokoh tersebut bahkan
meluluhlantakkan arena tempat ujian dan membahayakan semua penonton.
Akhirnya, semua ninja bersatu untuk melindungi para penonton dari bahaya
reruntuhan stadion.
Kedatangan dua ninja jahat tersebut untuk
menculik Naruto, yang bertujuan menangkap Kurama. Naruto pun akhirnya
bekerja sama dengan Sasuke untuk kembali bertarung. Mereka beraksi
dengan kehebatan teknik ninja masing-masing.
Boruto menyaksikan
bagaimana ayahnya dan Sasuke bekerja sama. Ia sadar, begitulah yang
seharusnya dilakukan seorang Hokage. Ia menyesal telah berprasangka
buruk kepada ayahnya. Ia pun sangat ingin membantu pertarungan ayahnya
meski teknik ninja yang dikuasainya terbilang minim.
Kehadiran
kisah Boruto ini seakan-akan mengobati para penonton yang rindu dengan
beragam aksi menegangkan dari pertarungan ninja. Sebelumnya, film layar
lebar Naruto banyak mengisahkan hubungan spesial Naruto Uzumaki dan
Sasuke Unchica. Kini, giliran pertarungan-pertarungan sengit yang
ditonjolkan.
Boleh dibilang kisah terbaru dari seri Naruto The
Movie ini memadukan drama dan action. Kisah pasangan ayah anak, Boruto
dan Naruto, di film ini memang dikemas sangat menyentuh. Aksi
menegangkan juga ditonjolkan dengan beragam pertempuran beritme yang
sangat cepat.
Boruto: Naruto The Movie membuktikan ternyata
Masashi juga tidak berhenti berkarya setelah The Last: Naruto The Movie.
Karyanya bahkan disambut baik dengan perolehan film yang sangat besar
semenjak dirilis di Jepang.
Untuk kamu penggemar berat kisah
Naruto, film ini tampaknya sayang untuk dilewatkan. Apalagi, Hiroyuki
Yamashita yang pernah menjadi sutradara episode "Naruto Shippuden" itu
kembali menggarap kisah kali ini. Lewat tangan dinginnya, kisah Naruto
pun dibuat dengan teknik animasi yang menarik dan seru. Seseru
pertarungan yang disuguhkan.
Ulasan Anime: Detective Conan-The Crimson Love Letter
Aksi detektif cilik Conan Edogawa dan
rekan-rekannya kembali hadir di film animasi layar lebar terbarunya yang
hadir di Indonesia, yakni Detective Conan-The Crimson Love Letter. Film yang disutradarai oleh Kobun Shizuno serta diproduksi di TMS Entertainment ini merupakan film ke-21 seri Detective Conan.
Film ini baru mulai diputar di bioskop Jepang pada tanggal 15 April
2017 dan akan tayang di Indonesia mulai hari ini 7 Juni 2017 di jaringan
bioskop CGV Cinemas, Cinemaxx, dan Platinum Cineplex.
Film
ini akan berfokus pada kisah asmara Heiji Hattori dan Kazuha Toyama dan
mengambil latar di Osaka yang merupakan kota tempat tinggal Heiji. Film
ini juga akan menghadirkan karakter Momiji Ooka, sosok juara Karuta
yang merupakan saingan cinta Kazuha yang baru saja hadir di komik
Detektif Conan edisi terbaru.
Film
dimulai dengan kasus pengeboman di TV Nichiuri pada musim gugur saat
pengambilan gambar untuk acara TV mengenai kompetisi Karuta, Piala
Satsuki. Piala Satsuki, yang merupakan mahkota pemenang Hyakunin Isshu Jepang,
saat ini sedang difilmkan di dalam fasilitas tersebut. Kejadian
tersebut menyebabkan keributan besar dan sementara bangunan itu terbakar
menjadi abu, satu-satunya orang yang tertinggal di dalamnya adalah
Heiji Hattori dan Kazuha Toyama. Mereka diselamatkan tepat pada waktunya
oleh Conan, yang bergegas ke tempat kejadian. Baik identitas pelaku
maupun tujuan pemboman tidak diketahui.
Ketika kekacauan terjadi akibat ledakan tersebut, Conan bertemu
seorang gadis cantik misterius bernama Momiji Ooka yang mengklaim
dirinya adalah tunangan Heiji. Ooka adalah juara Karuta tingkat SMA di
Kyoto. Dan takdir membawa Kazuha harus berhadapan dengan Momiji dalam
kompetisi Hyakunin Isshu. Karena itu dimulailah latihan intensif Karuta bersama Shizuka, ibu Heiji, yang merupakan mantan Queen Karuta.
Di
lain tempat, tepatnya di sebuah rumah tradisional Jepang di Arashiyama,
Kyoto, juara bertahan Piala Satsuki telah dibunuh. Kartu-kartu Karuta
bertebaran dan berlumuran darah disekitar tempat kejadian perkara (TKP).
Conan dan Heiji bersama dengan kepolisian Osaka dan Kyoto bahu-membahu
menyelidiki kasus pembunuhan dan hubungannya dengan kompetisi Hyakunin Isshu tersebut.
Poin menarik dari film ini adalah tema
permainan kartu Karuta yang menjadi latar cerita dan kasus pembunuhan.
Kesuksesan film Chihayafuru tahun lalu boleh jadi menginspirasi Aoyama
Gosho untuk mengangkat tema yang sama pada film Conan terbaru ini. Tidak
seperti film-film Conan sebelumnya yang menampilkan ledakan
bangunan/jalan pada bagian klimaks film, kali ini ledakan gedung dan
jalan diletakkan di awal film sehingga langsung menggemparkan keseruan
menonton film. Sayangnya setelah kasus pembunuhan pertama, alur cerita
jadi melambat dan lebih berfokus pada kisah cinta Heiji-Kazuha-Momiji.
Momiji, sosok gadis cantik misterius juara Karuta, ini benar-benar
memukau. Dia mengaku pengantin Heiji di masa depan. Apakah hubungan
mereka sedekat itu? Anda harus menontonnya untuk mengetahuinya. Banyak
kejutan menjelang akhir cerita yang sayang untuk dilewatkan.
Berkaca
dari film-film Conan sebelumnya di mana kasusnya sulit dan membutuhkan
pemikiran ketika menontonnya, maka di film kali ini kasus pembunuhannya
dibuat lebih mudah dicerna dan ditebak siapa pelakunya. Kalau anda
teliti sejak pemboman di stasiun TV Nichiuri, disorot cincin sang
pelaku. Tentunya ini merupakan petunjuk penting untuk mengungkap siapa
pelakunya bukan.
Selain
itu, kisah percintaan antara Kazuha-Heiji-Momiji cukup membuat gregetan
seperti layaknya menonton kisah FTV di TV lokal. Yang pasti hal ini
memanjakan para penonton wanita. Satu lagi hal yang menarik di film ini
adalah penggunaan Kansai-ben (dialek Kansai) yang kental di hampir
setiap dialog antara Heiji-Kazuha-Momiji, Mikiko (teman Kazuha), Kensuke
Achiha (suami Satsuki), sampai Inspektur Heizo (Inspektur polisi Osaka)
dan Inspektur Ayanokoji yang menggunakan dialek Kyoto.
Kesimpulan
Detective Conan-The Crimson Love Letter
sepertinya lebih menampilkan sosok Heiji Hattori sebagai bintang utama,
di mana setting lokasi di daerah Kansai (Osaka dan Kyoto). Peran Conan
di sini lebih seperti asisten Heiji dalam mengungkap kasus pembunuhan
dan pemboman TV Nichiuri. Tapi menjelang pertengahan film, porsi Conan
bertambah sedikit walau akhirnya tetap ditutup dengan aksi heroik Heiji
menolong Kazuha melompati rumah yang terbakar melewati kepulan asap dan
tingginya tebing.
Ditambahnya elemen
permainan Karuta membuat film lebih menarik, tidak melulu kasus
pembunuhan dan kisah cinta komedi di film Conan pada umumnya. Jangan
beranjak sampai film selesai, karena ada epilog setelah credit title.
Manga Hunter x Hunter Kembali Dilanjutkan di Weekly Shonen Jump
Setelah hiatus panjang, akhirnya Hunter x Hunter akan kembali hadir di Weekly Shonen Jump!
Hunter x Hunter karangan Yoshihiro Togashi sebelumnya sudah
pernah hiatus pada tahun 2014, yang rencananya adalah hiatus singkat
selama dua minggu, tetapi dia harus beristirahat hingga dua tahun
kemudian yaitu pada tahun 2016. Hiatus ini disebabkan karena sakit
punggung bagian bawah dari sang mangaka yang sudah sangat parah.
Sayangnya, Hunter x Hunter tidak berlanjut lebih lama di tahun 2016 karena masalah kesehatan dari sang mangaka membuat seri ini harus hiatus kembali. Nah, kabar baik bagi para penggemar serial ini, karena seri ini akan kembali di majalah Weekly Shonen Jump!
Melalui website resmi Shonen Jump, mereka memberitahu bahwa manga Hunter x Hunter akan kembali pada tanggal 26 Juni 2017.
Manga kompilasi Hunter x Hunter volume 34 juga akan rilis di
tanggal yang bersamaan. Sebelumnya memang sudah ada rumor yang
mengatakan bahwa manga ini akan segera kembali rilis di Shonen Jump.
Pihak Jump sendiri sudah mengabarkan bahwa seri ini akan kembali
berlanjut, hanya saja belum memberikan tanggal yang pasti sampai
beberapa hari lalu.
Volume 33 sendiri pertama kali rilis di Jepang pada tanggal 3 Juni
2016, sedangkan versi Viz atau versi translasi ke bahasa Inggrisnya
rilis pada bulan Maret 2017. Volume 34 akan berisi cerita dari chapter 351 yang berjudul Shito (Mortal Combat) hingga chapter 360 yang berjudul Kise (Parasite).
Pada tanggal 26 Juni nanti, kemungkinan cerita Hunter x Hunter akan melanjutkan ke chapter selanjutnya yaitu 361.
Hunter x Hunter sendiri menceritakan tentang petualangan Gon untuk menjadi Hunter terhebat. Gon bertemu tiga teman baru di dalam perjalanannya yaitu Killua, Kurapika, dan Leorio.
Para penggemar dan penikmat manga pernah membuat lelucon tentang ketertarikan Yoshiro Togashi dengan game Dragon Quest. Mungkinkah selama ini dia hiatus karena ingin menyelesaikan petualangannya di dalam Dragon Quest?
Tentunya para penggemar dan kita semua berharap kesembuhan untuk Togashi agar manga Hunter x Hunter dapat berlanjut tanpa kendala sedikit pun. Apakah kamu sudah tidak sabar untuk menantikan kisah selanjutnya dari serial ini?
Film Live-Action ‘Fullmetal Alchemist’ Rajai Box Office Jepang
Film live-action Fullmetal Alchemist yang
mulai tayang di Jepang pada tanggal 1 Desember berhasil merajai puncak
box office Jepang pada akhir pekan di tanggal 2-3 Desember 2017.
Tayang di 400 layar bioskop di Jepang, film itu berhasil meraup hasil
penjualan tiket sebesar 264.065.100 Yen atau sekitar 33,5 milyar
Rupiah.
Perolehan tersebut menyebabkan film yang diadaptasi dari serial manga karya
Hiromu Arakawa itu mencatatkan total penjualan sebanyak 373.330.500 Yen
atau sekitar 47,5 Milyar semenjak mulai tayang di Jepang.
Film ini akan menghadirkan Ryousuke Yamada yang berperan sebagai Edward Elric, Tsubasa Honda sebagai Winry Rockbell, dan Dean Fujioka sebagai Roy Mustang. Lihat jajaran pemeran lainnya:
Ryuuta Satou sebagai Captain Maes Hughes
Yo Oizumi sebagai Major Shou Tucker
Yasuko Matsuyuki sebagai Lust
Kanata Hongou sebagai Envy
Shinji Uchiyama sebagai Gluttony
Fumiyo Kohinata sebagai General Hakuro
Misako Renbutsu sebagai Riza Hawkeye
Natsuna sebagai Maria Ross
Natsuki Harada sebagai Gracia Hughes
Yo Oizumi sebagai Shou Tucker
Jun Kunimura sebagai Doctor Marco
Kenjiro Ishimaru sebagai Father Cornello
Sutradara film ini, Fumihiko Sori mengatakan bahwa ia ingin membuat
sebuah film yang mengikuti gaya manganya sebaik mungkin. Meskipun semua
perannya dimainkan oleh orang Jepang namun dia akan menghadirkan latar
budaya Eropa. Namun, dia tidak ingin merepresentasikan ras atau negara
secara spesifik.